Search
Categories
Links:

PostHeaderIcon Kustomisasi Perangkat Keras

1

 

 

2

 

 

3

 

PostHeaderIcon Landasan Cinta Lingkungan Dimulai dari Sekolah

Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (ESD) menerapkan pengenalan lingkungan lokal sekaligus membuat anak peduli mengenai lingkungannya.

landasan-cinta-lingkungan-dimulai-dari-sekolah

Gerakan penanaman tanaman lokal di SMP 4 Selat, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, saat Deklarasi Aksi Untuk Bumi pada Senin (11/2) lalu. Tanaman yang ditanam terdiri dari flora khas Kalteng, termasuk kayu ulin. (Zika Zakiya/NGI)

 

Berawal dari motto “Aku bukan anak sembarangan, maka aku tidak buang sampah sembarangan,” anak-anak di SD 4 Menteng, Kalimantan Tengah, mencoba menerapkan statusnya sebagai pelaksana Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (Education for Sustainable Development -ESD).

Ernawati sebagai Kepala Sekolah, memulai ini sejak tujuh bulan silam. Ditambah bantuan bimbingan dari satgas Reduksi Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD+), Ernawati memasukkan muatan lokal mengenai lingkungan ke dalam kurikulum sekolahnya.

Muatan lokal ini berisi pengenalan tanaman lokal Kalteng seperti galam dan kayu ulin. “Anak-anak kini lebih paham mengenai lahan gambut, sebelumnya tidak banyak yang tahu kalau Kalteng ini berdiri di atas lahan gambut,” ujar Ernawati ketika ditemui Minggu (10/2) lalu.

previewHal sama dirasakan Luise T.Dehen sebagai Kepsek SMP Negeri 12, Palangkaraya. Sebelumnya, ia dan staf guru terpaku dengan apa yang di buku panduan. Tapi kini mereka mulai menerapkan pengembangan kurikulum berbasis lingkungan lokal.

“Balasannya hanya pahala dari Tuhan yang Maha Kuasa,” kata Luise sambil tergelak ketika ditanya mengenai insentif yang diterimanya.

Sekolah-sekolah yang dipimpin kedua perempuan di atas merupakan dua dari sebelas sekolah binaan ESD Satgas REDD+. Dikatakan Communication and Stakeholder Engagement Working Group REDD+ Aulia Wijasih, “Kami memberikan pencerahan pada guru-guru mengenai pembangunan berkelanjutan.”

Sekolah dipilih sebagai ladang pelaksanaan ESD karena di sebagian besar wilayah Indonesia guru merupakan corong komunitasnya. Guru mendapat peran penting dalam mempengaruhi keputusan, serta menjadi jembatan komunikasi informasi terbaru.

 
Sumber : http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/02/landasan-cinta-lingkungan-dimulai-dari-sekolah

PostHeaderIcon Pengaruh Indeks Glisemik dan Komposisi Zat Gizi Pangan serta Frekuensi Pemberian Makan pada Respons Glisemik, Nafsu Makan, dan Profil Lipid Orang Dewasa Obes dan Normal

Sejak dikenalkan pada tahun 1981 oleh David Jenkins, konsep indeks glisemik pangan telah meramaikan pendekatan intervensi gizi bagi penderita diabetes melitus, penderita obesitas, dan olahragawan. Indeks glisemik didasarkan pada pemahaman bahwa karbohidrat yang diserap dengan cepat akan dilepaskan ke dalam darah dengan cepat dan sebaliknya.

 

sumber : http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/46883

PostHeaderIcon Hello world!

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!